Senin, 25 April 2011

Jeruk Rekayasa Genetika Tumbuh di Gurun


Manis, tanpa biji, kulitnya tipis dan mudah dikupas, serta dapat ditumbuhkan di padang pasir. Itulah jeruk sempurna... hasil rekayasa genetika.

Departemen Plant Biology dari University of California di Riverside mengumumkan kesuksesan peneliti mereka membuat KinnowLS, jeruk hasil rekayasa genetika yang dibuat berdasarkan jeruk kinnow yang biasa tumbuh di India dan Pakistan. Kinnow sendiri sebetulnya merupakan hasil rekayasa genetika oleh UC Riverside 10 tahun yang lalu.

KinnowLS dibuat dengan memborbardir tanaman muda dengan sinar X, sinar gamma, dan berbagai bahan kimia. Beberapa pertanian di daerah panas di California sudah diberi izin untuk menumbuhkan pohon jeruk ini dan akan menghasilkan KinnowLS tiga tahun lagi.

Jeruk ini belum akan dikomersialkan setidaknya sampai lima tahun lagi karena saat ini masih dalam versi coba-coba. Jenis jeruk rekayasa yang tahan kondisi ekstrim tentu harapan bagi ketahanan pangan di masa depan, tetapi keamanan introduksi ke alam liar tentu masih menjadi pertimbangan utama untuk dikaji lebih lanjut.(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)


Lihat Sumber

Teknik Jitu Tingkatkan Panen Udang


Teknik budidaya ternyata sangat berpengaruh terhadap kelolosan hidup (survival rate) udang sehingga berpengaruh pada hasil panen. Hal itu dibuktikan oleh Maryanto, petambak yang bekerja di salah satu usaha budidaya udang vaname di wilayah Kalianda, Lampung.

Untuk membudidayakan udang, Maryanto menggunakan dua macam kolam. Kolam pertama dipakai sebagai penghubung antara sumber air laut dengan kolam kedua. Kolam pertama diisi dengan ikan bandeng, sementara hanya kolam kedua benar-benar digunakan untuk usaha budidaya udang.

Maryanto menyebut kolam pertama sebagai tandon. Fungsi adanya ikan bandeng di kolam tersebut adalah untuk membantu menciptakan kondisi air yang sesuai bagi udang vaname. Air yang sesuai diharapkan bisa meningkatkan kelolosan hidup udang.

Maryanto mengatakan, ia memulai sistem tersebut sejak awal tahun 2010. Sebelumnya, ia memakai satu kolam langsung untuk budidaya udang, langsung terhubung dengan sumber airnya. Saat itu, ia menjumpai survival rate (SR) hanya 40 persen karena udangnya banyak terserang penyakit.

"Setelah memakai sistem ini, SR-nya meningkat. Bisa mencapai 95 persen. Udang juga tak terserang patogen (penyakit)," ungkapnya saat ditemui belum lama ini. Meski caranya sukses, belum banyak pembudidaya udang di daerahnya yang menggunakan sistem serupa karena dianggap boros lahan.

Saat ini, usaha budidaya tempat Maryanto bekerja memiliki total empat kolam budidaya udang. Tiap kolam punya luas 3.500 meter persegi dan biasanya ditebari 350.000 benih. "Kalau panen, untuk 350.000 ekor itu beratnya bisa sampai 6-7 ton," ungkap Maryanto.

Masa pembesaran hingga panen biasanya membutuhkan waktu 120 hari. Hingga panen, biasanya diperlukan pakan sekitar 9 ton pakan serta immunostimulan dan multivitamin. Harga benih udang per ekornya Rp 33, sementara harga pakan per kilogramnya Rp 10.000.

Budidaya udang vaname memiliki beberapa isu lingkungan yang mesti diperhatikan. Salah satunya adalah soal pengolahan limbah. Karena vaname adalah spesies dari Amerika Latin, isu lain yang mesti diperhatikan adalah penyakit yang mungkin juga menyerang spesies lokal.


Lihat Sumber

Ilmuwan Berhasil Memindahkan Cahaya


Memindahkan obyek dengan teleportasi seperti dalam fiksi ilmiah ruang angkasa ternyata sudah dilakukan ilmuwan meski sebatas memindahkan seberkas cahaya. Teleportasi terkait dengan sifat dua partikel yang dapat disatukan sekalipun terpisah jauh. Kedua partikel dapat berkomunikasi secara instan.

Untuk melakukan teleportasi cahaya, para peneliti yang dipimpin Noriyuki Lee dari Universitas Tokyo menghancurkan partikel di satu tempat dan menciptakan kembali di lokasi lain. Ini mirip dengan proses teleportasi dalam film Star Trek yang menampakkan alat teleportasi memindai seseorang, atom demi atom, menghancurkan, dan kemudian membangun kembali orang dengan pola sama.

Lee dan tim memindahkan cahaya dengan "mengaitkan" satu paket cahaya dengan separuh partikel lain, kemudian menghancurkan. Partikel yang tersisa merekam "hubungan" dengan partikel lain tadi, termasuk informasi tentang cahaya sehingga memungkinkan peneliti untuk membangun kembali cahaya dengan konfigurasi persis di tempat lain.


Lihat Sumber

Siluet Ibu


Mbak, ibu sakit keras. Segera pulang. (Parmin).

Es-em-es Parmin yang mengabarkan perihal sakit Ibu sudah tidak mengejutkanku lagi. Entah itu es-em-es yang keberapa, mungkin kedelapan atau kesepuluh selama sebulan ini. Aku tidak terlalu memperhatikan. Aku belum bisa pulang lik, nanti uang berobat kutransfer.

Begitu jawabku selalu. Namun entah mengapa es-em-es terakhir ini terasa lain. Membawa rasa rindu yang sangat. Menyusup rasaku. Membuatku terkenang Ibu, terkenang masa kecilku.

Bagaimana harus kuceritakan untuk menggambarkan kegembiraan masa kecilku? Kegembiraan bocah lima tahun yang kegirangan saat sore hari tiba. Kegembiraan saat jingga meraja di ufuk barat, menuntun matahari memasuki peraduannya. Saat seperti itu, Ibu mengajakku berjalan keliling rumah sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutku yang usil.

“Hak dulu…hak dulu…hak? Emm..,” begitu pancing Ibu setiap kali aku asyik berlari-lari mengitarinya. Mulutku yang asyik menyanyi lagu asal bunyi terpaksa bergumam karena penuh nasi. “Kalau maem, nggak boleh sambil nyanyi ya,” begitu pesannya selalu. Aku tidak selalu mendengarkan nasehatnya. Mulutku terus bernyanyi, bergumam dan bernyanyi kembali. Bahagiaku tumpah ruah sebab saat sore seperti itu, Ibu hanya untukku sendiri.

Lalu kembali kami berjalan mengitari rumah. Rumah kayu dengan pohon mangga di depannya. Tidak luas. Hanya 180 meter persegi mungkin. Sungai kecil mengalir di sampingnya, tempatku bermain mencari ikan cupang atau keong emas. Ketika lewat di tepi sungai kecil itu, tangan Ibu selalu menuntunku. Saat seperti itu aku dapat berteriak menyanyi dengan keras, karena Ibu berhenti menyuapiku.

Saat matahari semakin condong ke barat, suka citaku menghebat. Ibu mengajakku bermain petak umpet. Aku, kemudian akan berlari kecil mengitarinya dan bersembunyi di balik bayang tubuhnya. Ibu meningkahi dengan berteriak nyaring memanggil namaku.

“Jati..Jati…,” begitu panggil Ibu selalu sambil kepalanya menengadah, menengok ke kanan dan ke kiri mencariku. Aku diam berjongkok di bawah bayang gelap Ibu. Lalu dengan tanganku kugores tanah seturut bentuk bayangannya, mencoba membuat siluet Ibu. Dengan berpura-pura bingung, Ibu akan bergumam, Jati dimana ya? Sejenak kemudian ia menengok ke belakang, dan aku berteriak, hua! Bahagiaku meledak tiada terkira. Jika Ibu sudah menemukanku, ia berpura-pura memaksaku makan.

“Nah…ini dia. Ayo hak dulu! Hak? Emm..,” katanya pula.

Kenangan itu begitu lekat. Merekat hangat di relung kalbuku. Saat rinduku pada Ibu membuncah, kenangan itu menari-nari di depan mataku. Persis seperti saat ini. Tanpa terasa butir-butir bening menggenangi pelupuk mataku. Beruntung aku masih menyimpan siluet Ibu. Siluet yang kubuat saat aku masih SMA sebagai penawar rinduku padanya. Aku membuatnya dua, satu untukku, satu untuk Ibu.

Syahdu kupandangi siluet Ibu. Rindukah Ibu padaku? Terbayang wajahnya kala itu memuram, ketika kuputuskan untuk pergi meninggalkannya. Sembilan tahun lalu, sebelum tapak kakiku menyusuri hiruk pikuk pinggiran kota Bangkok.

“Kamu tidak kasihan dengan Ibu, Jat?” tanyanya waktu itu.

Aku tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Jelas bahwa aku kasihan pada Ibu. Ibu yang harus mengurus empat anaknya tanpa topang kuat tangan lelaki. Bapak meninggalkan kami karena sakit paru-parunya sudah tidak dapat terobati. Kakakku terpaksa menjadi kuli, menggantikan Bapak menyangga hidup kami. Namun hidup kami tetap jauh dari sejahtera. Dua adikku masih membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Jelas bahwa aku kasihan padanya. Justeru sebab itulah aku harus pergi. Meski harus menjadi TKI.

“Apakah tekadmu sudah bulat untuk menjadi TKI, Jat?” tegas Ibu sekali lagi. “Iya Bu. Maafkan Jati,” jawabku lirih. “Tapi Ibu tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Ibu tidak mampu nyangoni kamu Nduk,” keluhnya masgul. “Bagaimana kalau kita pinjam uang dulu, Bu? Pak Hadi Atmojo mungkin mau membantu kita,” usulku mencoba mencari jalan keluar.

Hari berikutnya Ibu sowan ke rumah Pak Hadi Atmojo. Pak Hadi Atmojo seorang turunan ningrat, berdarah priyayi. Dialah orang terkaya di kampung kami saat itu. Ia suka meminjamkan uangnya kepada orang yang membutuhkan asal ada jaminan dan bersedia mengembalikan dengan bunga tinggi. Kami tidak punya pilihan lain karena tanda tangan Ibu tidak laku dijual ke bank. Jadilah hari itu Ibu pergi ke rumah Pak Hadi Atmojo dengan membawa surat pensiun Bapak sebagai jaminan. Tidak ada lagi yang tersisa di rumah! Dengan bermodal uang pinjaman itu, aku bulatkan tekadku untuk menjadi TKI. TKI ilegal di Negeri Gajah Putih.

“Jat, ada yang nyari lu tuh!” suara Marni membuyarkan lamunanku. Marni teman satu apartemenku. “Laki perempuan?” tanyaku. “Laki-lah. Ngapain juga perempuan nyari lu,” jawabnya sinis. “Tolong deh lu urus. Gue lagi nggak enak badan nih...,” kataku memohon.

Aku sengaja memberikan alasan itu karena sebetulnya aku sedang bad mood. Rinduku pada Ibu membuatku hilang rasa. Rindu yang terpicu es-em-es Lik Parmin tetangga sebelah rumah di kampung yang kepadanya perihal Ibu kuserahkan. “Lu mau kehilangan Tuan Cheng, ATM berjalan lu?” lirik Marni nakal. “Tuan Cheng?” tanyaku mencari peneguhan. Aku lihat Marni menganggukkan kepalanya dengan senyum nakal.

Ia dan teman-teman satu apartemen tahu belaka kalau aku merupakan pemijat idola Tuan Cheng, pengusaha Indonesia yang suka plesir ke Thailand. Selain itu, mereka tentu saja juga tahu kalau aku perempuan simpanannya. Dan Tuan Cheng adalah ATM berjalan buatku, tidak lebih tidak kurang. Terpaksa aku menemuinya dengan berharap lebih banyak dollar kudapat untuk biaya berobat Ibu. “Sudah lama Koh?” tanyaku basa-basi. “Ah, kemana aja oe. Lama betul oe, haiya?” sungutnya. “Maaf, Koh...lagi nggak enak badan,” jawabku memberi alasan. “Oh. Kalau nggak enak badan, ya sudah, oe istirahat saja..” katanya. Sebenarnya aku tahu kalau Tuan Cheng sedikit menaruh hati padaku. Itu sangat cukup berarti buatku untuk menjaganya tetap menjadi pelanggan setia. Buatku, semua ini hanya bisnis.Tidak ada yang lain. Titik! “Nggak papa Koh. Masih mampu kok kalau cuma mijit doang,” kataku dengan mencoba menarik senyum meski gagal. “Bener oe?” tanyanya. “Pijit doang Koh. Nggak ada yang lain,” kerlingku menarik simpatinya. “Nggak boleh nambah? Haiya...” “Tetep aja nawar,” sungutku berpura-pura.

Aku ajak Tuan Cheng ke kamarku. Lalu seperti biasa tugasku memijatnya dengan ramuan rempah-rempah dari Jawa. Kali ini hanya memijatnya. Kadang aku berpikir, untuk apa orang Indonesia pergi ke Thailand hanya untuk merasakan pijatan dan rempah-rempah orang Jawa. Teringat tanah jawa, lamunanku melayang-layang kembali.

Separah apakah sakit Ibu? Tangan kananku terus memijat Tuan Cheng sementara tangan kiriku memegangi siluet Ibu yang tadi sempat kusimpan di saku dasterku. Maafkan Jati Bu, maafkan Jati, bisik hatiku berkali-kali. Tak terasa kristal-kristal bening air mataku menetes membasahi punggung Tuan Cheng. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu, ratapku memohon pada-Nya. “Jati..kenapa oe nangis? Oe sakit ha?” tanya Tuan Cheng mengagetkanku. “Nggak papa Koh.” “Oe, punya masalah? Duit ha? Duit?” tanyanya lagi. “Iya Koh,” jawabku tanpa basa basi. Memang aku sedang butuh duit. “Ibuku sedang sakit di Jawa,” tambahku. Tuan Cheng tiba-tiba bangun dan duduk di sebelahku. “Ah, oe orang tega betul ha. Ibu oe sendiri sakit, oe orang nggak pulang, haiya..” katanya sambil menatapku penuh tuduhan. “Sebenarnya saya ingin pulang Koh. Tapi masalah duit itu tadi. Ibu perlu berobat. Tidak mungkin kan saya pulang cuma pulang doang?” lirihku penuh penyesalan. “Sudahlah, oe orang pulang aja. Pakai uang I untuk berobat Ibu oe. Besok I urus kepulanganmu,” kata Tuan Cheng.

Kata-kata Tuan Cheng laksana air yang menyegarkan dahagaku. Terlihat benar bahwa ia mencintaiku, meski hanya sebagai perempuan simpanan. Aku peluki dia dan bertubi-tubi ciuman kuhadiahkan. Kali ini aku mengucap terima kasih dengan tulus dan berjanji akan segera menemuinya setelah urusan di kampung selesai.

Setelah Tuan Cheng berpamit, segera kukemas barang-barangku. Tak kuhirau lagi kata-kata Marni. Yang terpatri di benakku cuma satu, aku akan segera pulang! Ibu, anakmu akan segera pulang!

Aku tidak tahu bagaimana Tuan Cheng memberesi semua surat-suratku. Yang pasti, satu minggu sejak SMS Lik Parmin, aku bisa berkeliaran dengan bebas sebagai orang asing di Thailand. Tuan Cheng meyakinkanku bahwa aku tidak akan ditangkap sebagai TKI ilegal. Perjalanan ke Surabaya mulus tanpa halangan yang berarti selain bahwa rinduku semakin menjadi-jadi.

Prigi. Desaku masih seperti dulu. Desa dengan baju kemiskinan melekat di mana-mana. Hutan jati mengitarinya laiknya penghalang yang memenjara para penghuni di dalamnya. Aku tak perduli lagi. Setidaknya hutan jati itu masih menyisakan udara segar untuk kuhirup dalam-dalam memenuhi paru-paruku. Kuambil sedikit tanah basah. Kubalurkan pada pohon yang tinggi menjulang itu. Lalu kupeluki satu-satu pohon-pohon itu. Kubaui aroma hutanku. Inilah kampung halamanku. Dan aku berlari mencari Ibu.

Aku segera menuju rumah di ujung desa di mana ada sungai kecil mengalir di sampingnya dan pohon mangga menjulang indah di depannya. Rumahku. Tempat aku bermain petak umpet dengan Ibu. Tempat aku menggores tanah mencipta siluet Ibu. Ibu, aku pulang, bisikku. Tak sabar lagi aku ingin memeluknya, bersimpuh di kakinya dan memohon maaf atas semua luka yang tak sempat kuseka. Tak sabar lagi aku ingin membaktikan hidupku di sisa umurnya. Tak sabar lagi aku ingin menebus semua dosa.

Tak terasa kakiku melangkah lebih cepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Atap rumahku sudah terlihat dari ujung jalan. Aku berlari lebih cepat lagi. Pelataran rumahku dipenuhi rumput, kotor dan tak terurus. Aku segera menghambur ke pintu kayu yang rapuh, tak terkunci. Aku menemukan rumahku sunyi dan kosong. Hanya siluet Ibu yang kubuat waktu aku masih SMA tergantung di dinding ruang tamu. Tertulis di sana: untuk mengenang Ibu Sulastri, 10 Juni 1931 – 20 Agustus 2007.

Medio Maret 2011. Catatan: Lik: paman Nyangoni: memberi bekal uang Sowan: menghadap Oe: kamu Kisah ini fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, tokoh, kejadian dan tempat maka hal tersebut merupakan suatu kebetulan belaka.

lihat sumber

Senin, 03 Agustus 2009

Sejarah Aliyah

SEJARAH RINGKAS BERDIRINYA MADRASAH ALIYAH MA’ARIF KENCONG


Alamat : Jl. KH. Agus Salim No. 15 – 17 Telp. (0336) 321 713 Kode pos 68167
emai ; yunisma_ma@yahoo.com
KENCONG – JEMBER



SEJARAH RINGKAS BERDIRINYA
MADRASAH ALIYAH MA’ARIF KENCONG




Dalam uraian sejarah ringakas berdirinya Madrasah Aliyah Ma’arif Kencong ini terdiri dari :
1 – Nama Lengkap Madrasah
2 – Tingkatan Madrasah
3 – Status Madrasah
4 – Tahun berdirinya
5 – Pendiri Madrasah
a. Pemrakarsa (yang mempunyai gagasan pertama)
b. Pendukung dan pendorong
c. Pengurus yang pertama
6 – Formasi guru
7 – Alasan didirikanya Madrasah
8 – Tujuan pendirianya
9 – Usaha - usaha dalam rangka melestarikan madrasah
Uraian :
1 – Nama Lengkap Madrasah
Nama lengkap Madrasah adalah Madrasah Aliyah Ma’arif, merupakan kelanjutan dari Pendidikan Guru Agama Lengkap (PGAL) NAHDLATUL ULAMA’ yang selanjutnya diubah menjadi Pendidikan Guru Agama Lengkap (PGAL) Ma’arif.
2 – Tingkatan Madrasah
Karena Madrasah Aliyah ini adalah merupakan perubahan dari PGAL Ma’arif, maka lembaga pendidikan tersebut menjadi dua yaitu Madrasah Tsanawiyah (setingkat SLTP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SLTA), dengan jenjang pendidikan selama 3 (tiga) tahun.
3 – Status Madrasah
Status Madrasah adalah swasta, terdaftar pada Departemen Agama dengan mendapatkan bantuan guru negeri sejak masih bersetatus PGAL.
Kurikulum yang di pakai adalah kurikulum dari Madrasah Aliyah Negri di padukan dari Lemdaga Pendidikan Ma’arif dengan perincian sebagai berikut :
Jam pelajaran sesuai dengan Kurikulum Depertemen Agama ditambah 6(enam) jam pelajaran yang dimasukkan kedalam pelajaran agama.
4 – Tahun Berdirinya
Berbicara masalah tahun berdirinya, sebetulnya tidak dapat terlepas dari tahun berdirinya pendidikan Guru Agama pertama 4 tahun yang berdiri pada tahun 1956, kemudian setelah berjalan selama 4 tahun ditingkatkan menjadi PGAL.

Karena peraturan pemerintah bahwa Pendidikan Guru Agama hanya Negeri saja yang di perbolehkan, maka secara otomatis Pendidikan Guru Agama Lengkap (PGAL) Ma’arif berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Ma’arif pada tahun 1979. dari penjelasan ini maka tahun berdirinya Madrasah Aliyah Ma’arif Kencong adalah pada tahun ajaran 1979 – 1980 atau pada tanggal 22 Juli 1979
5 – Pendiri Madrasah
a – Pemrakarsa :
yang mempunyai gagasan pertama berdirinya pendidikan yang kemudian di beri nama Pendidikan Guru Agama Pertama Nahdlatul Ulama’ adalah Bapak K.H. jauhari zawawi sebagai Rois Syuriyah Cabang NU Kencong, karena di dorong suatu kelanjutan anak didik dari Madrasah Idtidaiyah yang sudah ada sebelumnya.
b – Pendukung dan Pendorong :
Gagasan tersebut disampaikan saat diadakan pertemuan pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kencong yang akhirnya disetujuinya berdirinya sekolah tersebut.
Jadi pendukung dan dorongannya adalah Pengurus Nahdlatul Ulama’ Kencong yang terdiri dari :
- Bapak K.H. Abdul Hayyi,
- Bapak K.H. Badruddin,
- Bapak K.H. Syafawi,
- Bapak K.H. Syrif,
- Bapak H.Abdul Jalal,
- Bapak H. Ahmad Thowie,
- Bapak Joyowisastro,
- Bapak K. Abdul Rosub,
- Bapak Basuki Abdullah,
c – Pengurus Sekolah yang Pertama
- Pelindung : Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kencong
- Penasehat : Bapak K.H. Jauhari Zawawi
Bapak K.H. Abdul Hayyi
- Ketua : Bapak ahmad Thowie
Wakil Ketua : Bapak K. Abdul Rosub
- Penulis : Bapak Abdul Mutholib Yunus
- Bendahara : Bapak Joyowisastro
- Pembantu : Bapak H. Abdul Jalal
Bapak Abdul Manan
Bapak Abdul Kholil Kancil
Bapak Kn. Masykur

6 – Formasi Guru
Dalam tahun berdirinya tahun 1956 formasi guru adalah sebagai berikut :
Kepala Sekolah : Bapak Basuki Abdullah
Guru Pembantu : Bapak Syamsul Bahri
Bapak Afif Manan
Bapak Suraji
Bapak Nur Wachid
Bapak Wiyono
Bapak Sirad
Untuk tahap awal kepala sekolah dan guru guru diangkat oleh pngurus sekolah dengan dasar keiklasan berjuang demi tegaknya agama islam, tanpa menghitung hononarium yang harus diterima setiap bulan .
Sedangkan formasi guru setelah menjadi madrasah alyah ma’arif adalah sebai berikut :
Kepala Sekolah : Bapak Machmud Adnan
Wakil Kepala : Bapak Ahmad Mursyid Shomadi
Guru Pembatu : Bapak Nur Yasin ( Guru Negeri)
Bapak Drs. Dulhari (Guru Negeri)
Bapak A. Barizi
Bapak Suladi Amil BA.
Bapak Sonhaji Sueb BA.
Bapak Subroto Haar
Bapak Afif Manan
Bapak Adb. Manaf Sukandar
Bapak Usnandar
Bapak Abdul Manaf S.
Bapak Drs. Yusuf (Guru Negeri)
Bapak Abdus Shomad (Guru Negeri)
Bapak Suryonoto
7 – Alasan didirikannya Madrasah
Alasan didirikannya Madrsah adalah sebagai berikut :
a – Masih belum adanya Sekolah Lanjutan di daerah Kecamatan Kencong yang
bernaung pada Lembaga Pendidikan Ma’arif .
b – Merupakan kelanjutan pendidikan dari pendidikan dasar yang telah ada.
c – Ingin ibadah lewat pendidikan, dengan mengadakan pengelolaan sekolah secara
baik .
d – Menampung para anak didik khususnya dari warga NU.
8 – tujuan pendiriannya
a - mencetak para kader nahdliyyin yang akan melanjutkan perjuangan para
pendahulunya.
b- sebagai wadah pembinaan para remaja yang belajar agama disamping
pendidikan umum yang sama dengan lembaga yang mengadakan
pendidikan umum.
c- Sebagai sarana untuk menampung para kader yang akan berjuang lewat
pendidikan
d – Sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah
9 – Usaha – usaha dalam rangka melestarikan madrasah
Madrasah dapat dilestarikan apabila memenuhi beberapa persyaratan (pendukung ) yang terdiri dari :
a – Mempunyai gedung tempat kegitan belajar mengajar,
b – Ada guru yang mengelola madrasah,
c – Ada siswa yang belajar,
d – Di tunjang dengan adanya dana ,
Untuk memenuhi persyaratan tersebut pengurus mengambil langkah – langkah sebagai berikut :
- Membangun gedung yang permanen yang memenuhi persyaratan pendidikan,
- Mengangkat guru – guru yang dianggap layak untuk mengajar,
- Karena madrasah ini dalam naungan lembaga pendidikan ma’arif maka dalam
rangka untuk mendapatkan siswa yang memadai diadakannya kerja sama dengan sekolah sekolah yang juga di bawah naungan LP ma’arif untuk menggiring para siswanya yang telah keluar dari pendidikan lanjutan pertama untuk dapatnya masuk ke madrasah aliyah,
- Di bidang dana disamping dari intra sekolah sendiri berupa SPP dan dana yang
lain, juuga berusaha untuk mencari donatur dari warga yang di angggap mampu.
Demikian sejarah ringkas berdirinya madrasah aliyah ma’arif kencong.

Kencong, 29 april 2006
Sesui dengan aslinya Notulen
Yang menyalin
ttd

M. Syiful Afif Manan
TU


SUSUNAN PENGURS MADRASAH TSANAWIYAH ALIYAH
MA’ARIF KENCONG JEMBER



Pelindung : Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kencong
Penasehat : Bapak K.H. Jauhari Zawawi
Bapak K.H.Abdul Hayyi
Ketua : Bapak Abdul Shomad Jalil
Wakil ketua : Bapak A.Fahim Jauhari
Bapak Ahmad Mursyid Shomadi
Bapak H. Muslim
Sekretaris : Bapak Drs. A.Syaikhu Yusuf
Wakil sekretaris : Bapak H. Alauddin
Bendahara : Bapak H. azizi
Wakil bemdahara : Bapak Muklis Kaafi
Pembantu pengurus : Bapak Hasanuddin
Bapak Hasyim
Bapak Drs. S. Abdur Rohman
Bapak h. Azhar Asy’ari
Bapak Ashari Thoha
Bapak Syamsul Arifin

-

Senin, 09 Maret 2009




VISI:

“UNGGUL PRESTASI BERPIJAK PADA NILAI-NILAI ISLAMI DAN AKHLAQUL KARIMAH”




MISI:
  1. Meningkatkan prestasi KBM untuk mencapai kelulusan yang standar
  2. Meningkatkan kualitas belajar siswa agar dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang berkualitas.
  3. Meningkatkan prestasi belajar bidang olahraga, seni serta karya ilmiah sesuai dengan potensi, bakat, minat / hobi siswa.
  4. Membekali siswa dengan Life Skill agar mampu bersaing dalam pasar kerja atau terjun dimasyarakat.
  5. Mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran agama Islam serta akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
 
Blogger Templates